Mengarungi Gelap di Tepi Sawah Langkahan: Intaian Bahaya di Jalan Irigasi Aceh Utara

atadro
Gambar ilustrasi.
Ukuran Teks

Aceh Utara – Malam baru saja merayap turun ketika hamparan sawah di Desa Pante Gaki Bale, Kecamatan Langkahan, perlahan ditelan bayang-bayang. Di balik ketenangan bentang alam Aceh Utara itu, ada kecemasan yang terus mengintai para pengendara yang melintas di sepanjang Jalan Irigasi Langkahan. Tanpa satu pun lampu penerangan jalan yang menyala, jalur vital tersebut kini menjelma lorong gelap gulita yang rawan memicu marabahaya.

​Bagi warga setempat, melintasi jalan di pinggir irigasi dan persawahan saat matahari terbenam membutuhkan tingkat kewaspadaan ganda. Bukan sekadar medan jalan yang menuntut kehati-hatian, melainkan bayangan kendaraan lain yang kerap mendadak muncul dari kegelapan tanpa aba-aba.

​Munawir, seorang warga Kecamatan Langkahan, menuturkan betapa mencekamnya situasi saat ia harus membelah malam di area Desa Pante Gaki Bale. Bagi warga yang hanya mengandalkan lampu sepeda motor yang redup, risiko beradu banteng di tengah jalan menjadi ancaman nyata setiap harinya.

​” Kalau lewat jalan irigasi di pinggir sawah Desa Pante Gaki Bale ini memang harus ekstra hati-hati, soalnya gelap sekali,” ujar Munawir saat ditemui, Sabtu (5/9/2026). “Kadang ada warga naik kereta (sepeda motor) yang lampunya mati. Tahu-tahu jaraknya sudah sangat dekat, itu yang bikin kaget dan rawan kecelakaan.

​Kondisi tanpa penerangan ini tak sekadar meningkatkan ancaman kecelakaan lalu lintas. Kegelapan pekat yang menyelimuti area persawahan yang jauh dari pemukiman padat juga menyisakan ruang remang bagi potensi tindak kejahatan. Warga khawatir, minimnya sarana fasiltas umum ini dimanfaatkan oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab untuk mengintai para pengguna jalan yang melintas seorang diri.

​Rasa was-was yang berlarut-larut membuat masyarakat mendesak Pemerintah Kabupaten Aceh Utara dan dinas terkait untuk tidak menutup mata. Mereka meminta penanganan cepat melalui perbaikan unit lampu yang rusak maupun pemasangan instalasi penerangan jalan umum (PJU) yang baru di sepanjang koridor irigasi tersebut.

​” Kalau bisa cepatlah diperbaiki atau dipasang lampu, supaya kami tidak was-was lagi tiap kali melintas. Jalannya benar-benar gelap sekali kalau malam,” harap Munawir menutup pembicaraan.

​Bagi warga Langkahan, pendar penerangan jalan bukan sekadar urusan bohlam dan tiang listrik, melainkan jaminan keselamatan yang menjadi hak dasar mereka. Kini, bola berada di tangan Pemerintah Kabupaten Aceh Utara: akankah desakan warga ini direspons dengan tindakan nyata, atau dibiarkan menguap bersama pekatnya malam di tepi irigasi?.