Aceh Barat – Senja di Gampong Ujong Baroh, Kecamatan Johan Pahlawan, Aceh Barat, Minggu (6 September 2026), terasa berbeda. Dari komplek Masjid Jamik Baiturrahim, lantunan zikir maulid menggema, menghidupkan suasana kampung yang tengah menyambut peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Empat grup zikir maulid dari sejumlah dayah dan pesantren di Aceh Barat dihadirkan dalam kegiatan tersebut.
Mereka bergantian melantunkan zikir dan syair pujian kepada Rasulullah SAW di hadapan masyarakat yang berkumpul di kompleks masjid.
Bagi warga Ujong Baroh, kegiatan itu bukan sekadar perayaan tahunan. Ia menjadi pintu pembuka rangkaian maulid yang akan berlanjut ke setiap dusun di gampong tersebut.
Keuchik Gampong Ujong Baroh, Daswin, SH, mengatakan maulid akbar itu sengaja digelar sebagai pembuka sebelum kegiatan serupa dilaksanakan di masing-masing dusun.
“ Maulid akbar ini menjadi pembuka. Selanjutnya kegiatan maulid juga akan dilaksanakan di setiap dusun dalam Gampong Ujong Baroh,” kata Daswin.
Rangkaian peringatan kemudian berlanjut pada Minggu malam melalui ceramah agama. Panitia menghadirkan Syekh Abdurrahman Jaber, ulama asal Arab Saudi yang merupakan adik kandung almarhum Syekh Ali Jaber.
Ceramah tersebut mengangkat sejarah kelahiran Nabi Muhammad SAW sekaligus mengajak masyarakat menengok kembali perjalanan Rasulullah dan nilai-nilai yang dapat dipetik dari kehidupan beliau.
Molod yang Mengikat Warga
Di Aceh, peringatan Maulid Nabi memiliki warna tersendiri. Tradisi itu tidak berhenti pada satu hari. Di sejumlah daerah Aceh Barat, perayaan maulid berlangsung sejak memasuki bulan Rabiul Awal hingga Rabiul Akhir.
Masyarakat mengenalnya dengan sebutan Molod Awai, Molod Tengoh, dan Molod Akhe rangkaian perayaan yang membuat suasana kampung seolah lebih lama berada dalam bulan penuh kecintaan kepada Rasulullah SAW.
Perayaan tersebut menjadi ruang bertemunya masyarakat. Zikir, tausiah, doa, dan silaturahmi berpadu dalam satu kegiatan. Masjid dan meunasah kembali menjadi ruang bersama, tempat warga duduk berdampingan tanpa banyak sekat.
Panitia menyampaikan kegiatan ceramah Maulid Nabi Muhammad SAW terbuka bagi masyarakat. Unsur Muspika juga diundang untuk menghadiri rangkaian ceramah agama pada malam tersebut.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah atau 2026 Masehi diharapkan tidak berhenti sebagai seremoni. Momentum tersebut diharapkan menumbuhkan kembali kecintaan masyarakat kepada Rasulullah SAW, sekaligus memperkuat nilai-nilai keagamaan dan tali silaturahmi antarwarga.
Sebab, di tengah kehidupan yang bergerak semakin cepat, tradisi seperti maulid memberi jeda: mengajak orang kembali duduk bersama, mendengar kisah tentang Rasulullah, dan mengingat bahwa agama juga tumbuh dari hubungan antarmanusia.
