Aceh Utara – Dentuman rapai menggema di bumi Pasee, memecah keheningan malam dan menyapa ribuan pasang mata yang tumpah ruah di arena utama. Di bawah temaram lampu panggung yang berpadu dengan megahnya dekorasi tradisional, pembukaan rangkaian Milad Samudera Pasai ke-800 di Kabupaten Aceh Utara resmi dimulai pada Senin malam, 8 September 2026.
Bukan sekadar seremoni kebudayaan, malam itu menjadi panggung bertemunya napas sejarah masa lalu dengan denyut persoalan sosial hari ini. Di tengah kemeriahan festival, angin segar berhembus bagi ribuan warga korban pascabencana. Bupati Aceh Utara, H. Ismail A. Jalil, SE., MM yang akrab disapa Ayah Wa membawa kabar yang telah lama dinanti-nantikan oleh para penerima manfaat.
Dengan mengenakan tengkulok khas Aceh Utara bermotif Pisang Dua Mu di kepala, simbol penghormatan mendalam pada warisan leluhur, Ayah Wa memastikan bahwa bantuan hidup atau jadup bagi warga pascabencana akan segera dicairkan. “ Insya Allah, Senin depan masyarakat sudah bisa mengambil jadup,” ujar Ayah Wa di hadapan warga yang memadati lokasi acara.
Ia tak lupa menyampaikan apresiasi terbuka kepada Kementerian Sosial Republik Indonesia yang bergerak cepat merealisasikan komitmen pemerintah pusat bagi warga yang berhak menerima.
“ Kami mengucapkan terima kasih kepada Kementerian Sosial yang telah membantu masyarakat dan menindaklanjuti janji pemerintah pusat untuk menyalurkan bantuan kepada warga yang berhak menerimanya,” tambahnya.
Jejak Peradaban di Selat Malaka
Kemegahan malam itu menemukan substansinya tatkala Staf Ahli Menteri Sosial RI, dr. Imran, naik ke podium mewakili Menteri Sosial untuk membuka hajatan besar tersebut secara resmi.
Dalam pidatonya, Imran mengajak publik merenungkan kembali arti penting Samudera Pasai dalam peta peradaban global. Bagi Imran, kerajaan Islam pertama di Nusantara ini tidak boleh hanya dikenang sebagai teks dalam buku sejarah di sekolah-sekolah. Lebih dari itu, Pasai adalah episentrum perdagangan dan mercusuar penyebaran Islam yang merajut simpul-simpul peradaban di Asia Tenggara.
Peringatan delapan abad ini, tegas Imran, harus menjadi titik tolak kebangkitan kolektif. Momentum 800 tahun ini diharap mampu memantik kesadaran kolektif pemerintah daerah dan masyarakat untuk mengoptimalkan kekayaan sumber daya alam Aceh demi mendongkrak kesejahteraan sosial yang selama ini diimpikan. Senada dengan itu, Ketua DPR Aceh, Zulfadli, Amd, atau yang akrab disapa Abang Samalanga, mengingatkan bahwa identitas sebagai “orang Pasee” menuntut tanggung jawab moral yang besar.
Kebanggaan atas masa lalu, menurutnya, harus bertransformasi menjadi laku hidup sehari-hari. “ Hari ini kita boleh bangga menjadi orang Pasee. Namun yang lebih penting adalah bagaimana kita menjadi orang Pasee yang mampu menjaga marwah, sejarah, dan kejayaan yang telah diwariskan oleh leluhur kita,” tutur Zulfadli bernas.
Merajut Tradisi dan Masa Depan
Rangkaian pembukaan malam itu ditutup dengan peluncuran program kartu ATM BPD Aceh bertajuk “Aceh Utara Bangkit” oleh Bupati Aceh Utara.
Sebuah penanda bahwa denyut ekonomi daerah bergerak seirama dengan napas kebudayaan. Selesai ketukan gong dan peluncuran program, panggung beralih rupa menjadi lautan warna. Defile adat dari berbagai gampong dan kecamatan di Aceh Utara berarak menampilkan kekayaan busana, tarian, dan tradisi lokal yang nyaris tenggelam oleh zaman.
Delapan abad telah berlalu sejak kapal-kapal asing berlabuh di muara Pasai membawa rempah dan tauhid. Kini, di tempat yang sama, Aceh Utara merajut kembali serpihan sejarahnya menghidupkan kenangan kejayaan silam sembari memastikan dapur-dapur warga kembali ngebul lewat kepastian bantuan yang kian dekat di tangan.
