{"id":711,"date":"2026-09-02T20:02:00","date_gmt":"2026-09-02T13:02:00","guid":{"rendered":"https:\/\/tribunpase.id\/membangun-manusia-atau-sekadar-mencetak-angka-menakar-ulang-wajah-pendidikan-aceh-di-momentum-hardikda\/"},"modified":"2026-09-02T20:02:00","modified_gmt":"2026-09-02T13:02:00","slug":"membangun-manusia-atau-sekadar-mencetak-angka-menakar-ulang-wajah-pendidikan-aceh-di-momentum-hardikda","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/portal.atadro.com\/?p=711","title":{"rendered":"Membangun SDM atau Sekadar Mencetak Angka? Menakar Ulang Wajah Pendidikan Aceh di Momentum Hardikda"},"content":{"rendered":"<p><strong><em>Penulis Oleh: Muhammad Anil Alwi (Sekjend PC PMII Kota Lhokseumawe)<\/em><\/strong><\/p>\n<p><strong><em>\u200eEditor: Fadly P.B<\/em><\/strong><\/p>\n<p><strong>Aceh<\/strong> &#8211; Peringatan Hari Pendidikan Daerah (Hardikda) Aceh setiap tahunnya kerap diwarnai dengan kemeriahan seremonial: spanduk yang terbentang di sudut-sudut kota, upacara khidmat, hingga pidato resmi yang mendendangkan kemajuan pembangunan sumber daya manusia. Namun, di balik rutinitas tahunan tersebut, sebuah pertanyaan mendasar justru mengusik nalar kritis: manusia seperti apa yang sebenarnya sedang dilahirkan dari rahim pendidikan Aceh hari ini?<\/p>\n<p>Sekretaris Jenderal Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Kota Lhokseumawe, Muhammad Anil Alwi, menilai persoalan pendidikan di Serambi Mekkah tidak bisa direduksi sekadar menjadi baik atau buruk. Aceh memiliki modal historis dan kultural yang masif, mulai dari tradisi keilmuan Islam yang mengakar lewat dayah dan meunasah, hingga warisan intelektual yang panjang.<\/p>\n<p>Kendati demikian, kekayaan masa lalu itu kini berbenturan dengan realitas zaman yang bergerak cepat. Tantangan hari ini menuntut generasi muda untuk tidak sekadar literat secara harfiah, melainkan cakap membaca perubahan, berpikir kritis, menguasai teknologi, serta memiliki kepekaan sosial.<\/p>\n<p>&#8221; Kita terlalu sering melihat keberhasilan pendidikan melalui angka. Nilai rapor, peringkat akreditasi, jumlah kelulusan, hingga sertifikat administratif memang penting. Tetapi pendidikan tidak boleh berhenti pada angka,&#8221; ujar Anil dalam catatan refleksi Hardikda yang diterima, Rabu (2\/9).<\/p>\n<p>Ia mengingatkan, ukuran keberhasilan sejati terletak pada proses transformatif yang dialami seorang anak setelah bertahun-tahun menghabiskan waktunya di bangku sekolah. Ketika seorang siswa mampu mencatatkan nilai akademik yang tinggi, namun di sisi lain tumbuh menjadi individu yang takut bersuara, terbiasa menerima dogma tanpa nalar kritis, dan abadi dalam keterasingan dari problem sosial di sekitarnya, maka sistem pendidikan tersebut patut dievaluasi total.<\/p>\n<p><strong>Merajut Keadilan Ekosistem dan Pemerataan<\/strong><\/p>\n<p>Lebih lanjut, diskursus pendidikan di Aceh dinilai kerap terjebak pada pembangunan fisik megahnya gedung sekolah dan lengkapnya fasilitas penunjang. Padahal, kualitas sejati lahir dari ekosistem yang sehat: ruang tumbuh bagi guru yang merdeka, lingkungan belajar yang merangsang rasa ingin tahu, serta keterlibatan aktif orang tua.<\/p>\n<p>Aspek krusial lain yang kerap luput dari radar kebijakan adalah pemerataan. Kualitas pendidikan Aceh tidak boleh diukur dari seberapa gemilang prestasi sekolah-sekolah unggulan di pusat perkotaan semata.<\/p>\n<p>&#8221; Aceh bukan hanya Banda Aceh, Lhokseumawe, atau Langsa. Ada anak-anak yang belajar di wilayah periferi dengan keterbatasan akses internet, minimnya tenaga pendidik, hingga himpitan ekonomi keluarga,&#8221; tegas Anil.<\/p>\n<p>Bagi PMII Lhokseumawe, menjadi tidak adil apabila masa depan dan kapasitas intelektual seorang anak ditentukan oleh koordinat geografis tempat ia dilahirkan. Tolok ukur keberhasilan harus disandarkan pada seberapa jauh negara dan daerah mampu mengangkat institusi pendidikan dan anak-anak di titik paling tertinggal.<\/p>\n<p><strong>Menjaga Akar Identitas Tanpa Gagap Global<\/strong><\/p>\n<p>Di tengah arus globalisasi, pendidikan Aceh juga dihadapkan pada kewajiban moral untuk menjaga identitas kulturalnya. Modernitas tidak boleh membuat generasi muda tercerabut dari akar sejarah, adat istiadat, dan nilai-nilai keislaman yang menjadi jati diri masyarakat Aceh.<\/p>\n<p>Pendidikan agama dan ilmu pengetahuan modern dipandang bukan sebagai dua entitas yang harus dipertentangkan, melainkan disenyawakan. Generasi masa depan Aceh dituntut memiliki kapasitas ganda: mampu mendalami teks-teks keagamaan sekaligus membaca lanskap teknologi global, berakar kuat pada kearifan lokal, namun tetap luwes berdialog dengan peradaban dunia.<\/p>\n<p>Ruang-ruang akademik baik sekolah maupun kampus juga didorong untuk melebur dengan realitas sosiologis di luar pagar kelas. Persoalan nyata di tanah rencong, mulai dari krisis ekologi, ancaman kebencanaan, kemiskinan struktural, hingga tantangan sektor pertanian dan kelautan, harus masuk ke dalam kurikulum kehidupan.<\/p>\n<p>&#8221; Anak-anak tidak cukup hanya diajarkan teori ekologi di atas kertas. Mereka harus diajak memahami mengapa lingkungan di sekitarnya rusak dan bagaimana memulihkannya. Begitu pula dengan mitigasi bencana dan kewirausahaan, yang harus berwujud pada kemampuan menciptakan solusi nyata,&#8221; tambahnya.<\/p>\n<p>Keluar dari Paradigma &#8220;Mencetak Lulusan&#8221;<\/p>\n<p>Momentum Hardikda semestinya menjadi titik balik bagi para pemangku kebijakan untuk bergeser dari paradigma administratif mencetak lulusan bersertifikat menuju orientasi substansial: membangun manusia yang utuh.<\/p>\n<p>Aceh, menurut pandangan kritis tersebut, tidak lagi membutuhkan generasi yang sekadar antre mencari ijazah untuk mengisi lowongan kerja formal. Yang mendesak hari ini adalah kehadiran generasi pencipta (creator) yang mampu melahirkan gagasan, merawat lingkungan, menjaga marwah kebudayaan, dan mandiri menyelesaikan pelbagai persoalan masyarakat.<\/p>\n<p>Pada akhirnya, deretan gedung sekolah yang megah, tumpukan ijazah yang dicetak, atau laporan statistik yang elok di atas kertas tidak akan bermakna apa-apa jika orientasi dasarnya kehilangan manusia.<\/p>\n<p>&#8220;Pertanyaan terbesar pada momentum Hardikda Aceh hari ini bukan lagi seberapa jauh infrastruktur pendidikan kita berkembang, melainkan sudah sejauh mana pendidikan itu benar-benar mengubah kehidupan anak-anak Aceh,&#8221; pungkasnya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penulis Oleh: Muhammad Anil Alwi (Sekjend PC PMII Kota Lhokseumawe) \u200eEditor: Fadly P.B Aceh &#8211; Peringatan Hari Pendidikan Daerah (Hardikda) [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":712,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[19],"tags":[36,37,38],"class_list":["post-711","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-aceh","tag-hardikda","tag-muhammad-anil-alwi","tag-opini"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/portal.atadro.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/711","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/portal.atadro.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/portal.atadro.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portal.atadro.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portal.atadro.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=711"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/portal.atadro.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/711\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/portal.atadro.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/712"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/portal.atadro.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=711"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/portal.atadro.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=711"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/portal.atadro.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=711"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}